Kehidupan kampus adalah masa-masa penting dalam pembentukan karakter seseorang. Namun, dalam era post-truth yang kompleks ini, kehidupan kampus dapat menjadi tempat yang membingungkan dan memojokkan. Bagaimana kita dapat mempertahankan integritas dan nilai-nilai kita dalam kehidupan kampus yang penuh dengan berita palsu dan informasi yang terdistorsi?
Menurut Frankfurt, kejujuran adalah penting untuk memastikan diskusi yang produktif dan kemajuan dalam penyelesaian masalah yang paling mendesak. Dalam kehidupan kampus, kita harus memastikan bahwa kita mempertahankan kejujuran dan integritas dalam setiap interaksi dan tindakan kita, untuk membangun hubungan yang sehat dan produktif.
Namun, mempertahankan kejujuran dan integritas dalam era post-truth dapat menjadi tantangan. Bagaimana kita dapat membedakan antara informasi yang benar dan yang salah, dan bagaimana kita dapat memastikan bahwa kita hanya menyebarkan informasi yang benar?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengembangkan keterampilan kritis dan analitis yang kuat. Menurut Richard Paul, seorang pakar dalam bidang pemikiran kritis, "Pemikiran kritis adalah proses pemikiran yang aktif dan sadar untuk mempertanyakan asumsi, mengenali konteks, dan mempertimbangkan perspektif lain." Dalam kehidupan kampus, ini berarti bahwa kita harus mampu mempertanyakan asumsi, mengenali konteks, dan mempertimbangkan perspektif orang lain sebelum membuat keputusan atau mengambil tindakan.
Selain itu, kita juga harus memiliki keberanian untuk berbicara dengan suara kita sendiri dan memperjuangkan nilai-nilai kita. Seperti yang dijelaskan oleh penulis dan aktivis Amerika bell hooks, "Kami harus membangun jaringan penghubung antara orang-orang yang berbeda, dan terus mengajukan pertanyaan yang sulit untuk mengatasi perbedaan yang menghalangi kesatuan." Dalam kehidupan kampus, ini berarti bahwa kita harus berbicara dengan orang-orang yang berbeda pandangan, dan mempertimbangkan perspektif mereka sebelum membuat keputusan atau mengambil tindakan.
Namun, dalam memperjuangkan nilai-nilai kita, kita juga harus memastikan bahwa kita tetap terbuka untuk mendengarkan pandangan orang lain dan mempertimbangkan perspektif yang berbeda. Seperti yang dijelaskan oleh filosof Amerika Martha Nussbaum, "Kami harus belajar untuk hidup dengan keanekaragaman, untuk memahami dan menghargai keberagaman dan pluralisme." Dalam kehidupan kampus, ini berarti bahwa kita harus mampu menghargai keberagaman dan pluralisme di antara kita, dan mempertimbangkan perspektif orang lain sebelum membuat keputusan atau mengambil tindakan.
Dalam menjaga integritas dan nilai-nilai dalam kehidupan kampus, kita juga dapat mengambil contoh dari para tokoh yang telah memperjuangkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh, bell hooks telah memperjuangkan kesetaraan ras, gender, dan sosial dalam karya-karyanya, sedangkan Martha Nussbaum telah memperjuangkan pendidikan kritis dan keberagaman dalam pendidikan tinggi.
Selain itu, buku "The Death of Expertise" karya Tom Nichols juga memberikan kontribusi penting untuk mempertahankan integritas dan nilai-nilai dalam era post-truth. Menurut Nichols, kepercayaan masyarakat pada ahli telah menurun, dan terkadang menganggap bahwa semua opini sama nilainya. Namun, hal ini sangat berbahaya karena tidak semua opini memiliki dasar pengetahuan dan keahlian yang sama. Oleh karena itu, Nichols menekankan pentingnya keahlian dan kredibilitas dalam memberikan opini atau informasi.
Dalam menghadapi masalah kompleks dan ambigu dalam kehidupan kampus, kita dapat mengadopsi pendekatan holistik dan interdisipliner. Seperti yang dijelaskan oleh pakar dalam bidang interdisiplineritas, Julie Thompson Klein, "Interdisiplineritas adalah suatu cara pandang yang mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai bidang keilmuan." Dalam kehidupan kampus, ini berarti bahwa kita harus mampu memahami dan mengintegrasikan berbagai perspektif dari berbagai bidang keilmuan untuk memecahkan masalah yang kompleks.
Namun, kita juga harus memastikan bahwa kita tidak terjebak dalam paradigma keilmuan yang sempit dan terbatas. Sebagai contoh, Edward Said dalam bukunya "Orientalism" menunjukkan betapa bahayanya stereotip dan pandangan sempit terhadap budaya dan masyarakat lain, yang dapat menyebabkan prasangka dan diskriminasi.
Dalam menghadapi era post-truth, kita harus mampu mengembangkan keterampilan dan kemampuan untuk membedakan antara informasi yang benar dan yang salah, dan memastikan bahwa kita hanya menyebarkan informasi yang benar. Kita juga harus memiliki keberanian untuk berbicara dengan suara kita sendiri dan memperjuangkan nilai-nilai kita, namun tetap terbuka untuk mendengarkan pandangan orang lain dan mempertimbangkan perspektif yang berbeda. Terakhir, kita dapat mengambil contoh dari para tokoh dan buku-buku yang telah memperjuangkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Dalam menjaga integritas dan nilai-nilai dalam kehidupan kampus, kita juga harus mengadopsi pendekatan holistik dan interdisipliner yang tidak terjebak dalam paradigma keilmuan yang sempit dan terbatas.
*Mb. Chabieb, Alumni UKM KPN IAIN Kudus.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar