-->

KPN Beropini, Hilang dan Bersua


Ilustasi: Azka

Saya akan mengawali dengan fenomena yang kini tengah menjadi marak dikalangan mahasiswa sekarang. Bermula dari ekosistem dan iklim yang tercipta pada lingkungan akedemik Islam yang kini sedang mengalami stagnansi dalam berpikir. Santernya, isu-isu yang diangkat kepermukaan umum yang diakomodir oleh kepentingan elitmembawa kita pada terkikisnya nilai-nilai substansial Islam yang hanya hadir di muka saja Jujur sajatulisan ini ditulis dengan nada emosianal dan cenderung tendensius, akan tetapi saya hanya ingin memberikan perspektif yang lain, segar dan sedikit nyentrik pada kalimat kalimat saya nanti.

Selama hampir kurang lebih 3 tahun mengenyam bangku perkuliahan, saya hanya menemukan secuil mahasiswa yang memiliki pemikiran taktis dan idiealis. Melihat dan mengamati ekosisiem akademik dikalangan mahasiswa membuat sanubari saya ingin menyingkir dengan hiruk pikuk populasi mahasiwa yang kini tengah dilanda pemikiran-pemikiran yang statis dan pragmatis. Jika kalian mengamati kecenderungan ini yang kini tengah mengalami dikotomi berpikir. Di sisi lain ingin membangun citra yang merujuk pada pemikiran-pemikiran panjang dan memusingkan, sebaliknya di sisi lain ingin memberikan pemahaman bahwa kebutuhan dan kebermanfaatan yang di dewakan.

Kebiasaan yang ditanamkan dan pada akhirnya menjadi tradisi yang berkembang telah menghapus keberagaman berpikir yang harusnya hadir dalam setiap insan mahasiswa Islam sebagai generasi ideal yang akan meneruskan peradaban. Homogenitas cara berpikir yang mendera mahasiswa sekarang tak bisa terlepas dari kelompok-kelompok yang hadir menaungi dibelakangnya. Mereka hadir mengintai dari balik daun pintu kelas-kelas. Dilatarbelakangi oleh isu politik yang tengah mengalami kekacauan beberapa dekade silam hingga akhirnya kelompok besar ini berusaha lahir dengan memanfaatkan isu yang terjadi.

Ketika saya masih duduk dibangku sekolah, saya selalu melayangkan pandangan saya mengenai dunia kampus adalah dunia yang berisi oleh manusia-manusia intelektual yang cerdas dan radikal. Kisah-kisah heroik diceritakan dari mulut ke mulut, dari pertemuan ke pertemuan, dan dari buku ke buku. Pada akhirnya membentuk pandangan saya dalam memandang kehidupan dikampus. Saya selalu melihat bahwa dunia kampus seperti media yang sering mendokumentasikan dan mendengungkan ke khalayak luas hingga akhirnya tercena oleh mereka termasuk saya yang membentuk pola pandangan sekila saya prihal kampus. Dengan visual gedung-gedung tinggi, bangku kelas yang mengkilap, AC yang mendinginkan dibalut dengan corak berfikir yang melahirkan gagasan-gagasan yang menggairahkan.

Akan tetapi pandangan saya tak sesempurna seperti yang digamabarkan oleh media. saya hanya menemukan komunitas-komunitas keagamaan yang mendominasi kampus Islam saya. Menurut hemat saya ini adalah konsekuensi yang harus saya terima sebagai seorang mahasiswa Islam. Pemburuan jati diri akan terus berjalan meski di sela-sela hiruk pikuk keramaian argumentasi yang terasa sedikit mati yang mengundang tanda tanya, bakal hilang ditelan peradaban. Kebiasaan yang sudah terlanjur mentradisi agaknya harus kita telaah kembali dengan mengajukan pertanyaan mendasar pada realitas yang sedang terjadi dan menjauhkan diri sejauh mungkin dalam mencoba memberikatan perspektif lain yang berlainan.

Simbol simbol kedigdayaan telah disebarkan,

baliho-baliho ajakan telah dipasang di keramaian,

kebingungan menjadi kesempatan,

keingintahuan menjadi penghalang,

kerelaan diri dibawa lari,

perlawanan sedang terjadi.


*Ahmad Faiz Maulana Hakiki, Pengurus UKM KPN IAIN Kudus 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer