Kumpulan Puisi Terbaik Lomba Cipta Puisi Peringatan Hari Kartini
Per-EMPU-an
Oleh: Eka Romia Anjelie
Perempuan
Tak adakah definisi yang baik untuk kaum kami?
Seringkali kami menjadi korban objektifikasi
Tubuh kami dieksploitasi demi investasi
Pakaian kami disalahkan
Padahal nafsu mereka yang tak mampu ditahan
Mengapa hanya kami yang diedukasi
Terkait pakaian, rumah tangga, juga prinsip-prinsip kami
Sedangkan para pria dibiarkan saja
Bak raja
Kami diminta bungkam
Ketika tubuh kami direnggut
Kami bukan ikan asin, Jangan disamakan!!
Pria bukan kucing
Yang selalu siap menerkam ‘ikan asinnya’ Hey, Kita bukan binatang!!!
Jangan bangga!
Jangan menjadi selayaknya binatang!
Kalian dikaruniai akal, harap digunakan!
Sayang, bila berdebu
Tak ada perlindungan untuk kami
Hanya cacian yang kami terima
Miris kami melihatnya
Tugas kami bukan hanya melayani
Bukan sebagai objek belaka
Masa depan kami sering ditukar dengan uang, bahkan oleh keluarga sendiri
Padahal kami bisa mewujudkan sukses versi kami
Kami tak hanya menjadi istri, atau ibu yang terkurung di rumah
Kami berhak berkarir, kami berhak tak menikah, kami berhak tak memiliki anak
Kami berhak menjadi apapun yang kami mau
Kami berhak mendobrak tradisi
KAMI SELALU BERHAK!
Belum lagi standar kecantikan yang tak masuk akal
Tak putih, dikucilkan
Tak ramping, terkena body shamming
Tak berlesung pipit, tak berambut lurus, dikesampingkan
Kami ciptaan Tuhan, bila ingin protes, sana bertemu dengan Tuhan saja!
Feminisme dianggap lebay
Melawan patriarkis dikira melawan kodrat
Padahal kami hanya melindungi diri sendiri
Menguatkan satu sama lain
Kami selalu dalam bahaya
Oleh ayah, paman, saudara, kakek, pejabat, dokter, orang asing
Tak ada payung hukum yang menaungi kami
Di mana keadilan untuk kami? Sesepele itukah diri kaum kami?
Tak pernah ada tempat yang aman untuk kami
Ini bukan puisi, bukan pula sajak
Hanya suara prihatin kaum perempuan
Apakah perempuan, gadis, wanita, putri
Kami selalu pantas dihormati
Seringkali bukan tentang apa yang terucap
Melainkan tentang apa yang tak tersampaikan
Kudus, 21 April 2021
Kesaksian Emansipasi
Oleh: Marfu’atul Mahiroh
Dalam kubur ...
Aku dengar gendang telingamu pecah,
Oleh jeritan buruh pekerja paksa.
Aku lihat sarapan pagimu dengan menu pemerkosaan,
Sum Kuning, si kecil Yuyun, perempuan etnis Tionghoa,
Berasa mengunyah merdekanya ketidakadilan.
Dalam kubur ...
Aku berkebun di desamu yang begitu subur,
Ladang-ladang tertanam perempuan pelepas bangku sekolahan,
Demi patuhi adat untuk dinikahkan.
Tak lupa aku sempatkan berkunjung ke kotamu yang makmur,
Dan yang kutemui adalah bangunan malam pemecah ketuban.
Mbah!
Layaknya unggun kehilangan api, asas kesetaraan tak lagi dijunjung tinggi.
Kembali, ditelanjangi oleh diskriminasi.
Kemana detak jantung emansipasimu?
Apakah dibunuh oleh waktu?
Mbah!
Dengarkanlah!
Aku bersaksi bahwa sehabis kepergianmu,
Mereka melupakan perjuanganmu.
Habis gelap terbit terang,
Kemudian kembali padam.
Mbah!
Salahkah aku beriman?
Bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesamaan derajat di hadapan Tuhan.
Rembang, 21 April 2021
Jejak Emansipasi
Oleh: Elyna Dewi
Ingatkah kalian?
Dulu sang putri bisu
Dulu sang putri lumpuh
Dijerat arkhais kuno menyakitkan
Meringkuk termenung di sisi pojok ruang
Meratapi nasib buruk yang kian berulang
Hingga putri bangkit melawan ribuan pedang
Mempatri emansipasi demi generasi tersayang
Kartini muda
Kini kau telah memetik buah perjuangannya
Tersenyum duduk sejajar di bangku yang sama dengan kaum putra
Bebas berlari sana sini menggapai cita-cita
Kartini muda
Jangan hanya diam caramu berterimakasih
Emansipasi untukmu diperjuangkan penuh rintih
Mari berevolusi kobarkan api untuk sang merah putih
Pati, 21 April 2021
Putri Juang
Oleh: Almadatus Saekhatus Z.
Rintihan air mata gadis muda
Terbenam dalam lautan derita
Terpenjara dirahim ibunda
Bertopeng tawa
Menyeka paripurnanya duka
bersajak bahagia
Duka putri raja
Terkikis pintu cakrawala
Membuka lamunan asa
Menjadi karya
Tinta pena dipelukan jemari
Mengantarkan imaji
Di negeri asing nan jauh
Berteman letih tetap engkau kayuh
Roda kesetaraan yang dulu rapuh
Berjalan engkau dengan lantang
Diiringi perjuangan nan menantang
Di pesisir pantai utara
Karyamu bak lentera
Dapur, sumur dan kasur milik wanita
Diubahnya setara
Sejajar dengan kaum pria
Atas jasanya
Wanita tanah Jepara
Kudus, April 2021
Pernah Lebih Baik
Oleh: Arief Nugraha
Bangsa ini sedang tidak baik Bu
Mungkin, akibat mengabaikan nasihat Mu
Sikap acuh tak acuh, melekat padaglongan muda
Disusul kaum berengalaman, yang enggan, memikirkan ini bangsa
Semesta yakin dan percaya
Bahwa ini belum akhir
Bagaikan bunga mawar yang akan mekar
Sedikit secercah dengan harapan baru
Guna membuat bangsa yang maju
Maafkan kami
Telah membuat engkau, berlinang air mata
Kudus, 21 April 2021
Kilas Cahaya Pelebur Jeruji
Oleh: Sanisya Azzura F
Nostalgia singkat kala itu
Waktu belum mati
Mungkin bersembunyi di angka kelam dan besi tua
Gelap menancapkan pilar begitu kokoh
Riuh istana menyembunyikan gadis
Menanti pangeran tuk diboyong pergi
Menuju dunia baru
Atau sama, dengan jeruji lebih kokoh
Dalam pendapa bersama gamelan
Kau duduk bersimpuh dengan kaki direkat jarik
Ketuk demi ketuk instrumen hadir
Melodi sumbang mengiringi kematian jiwamu
Pelan, seperti derik tulang
Sang kakak tertawa menambah sumbang melihatmu
Lantas ia hadir dalam genggamannya, kunci itu
Mempertemukanmu dengan mereka
Lembar demi lembar dunia membawamu pergi
Dalam jeruji yang sama, kini semua berbeda
Coretan dan ukiran menari riang bercerita tentang duniamu
Percik api hadir, menjadi bara
Para adik mengajak angin membakarnya
Lembar menjadi buku menjadi sejarah
Kau antarkan kemanapun tangan dan kakimu bergerak
Hingga semua paham, mereka bergerak
Kini, kita bebas bergerak
Dalam dunia, tanpa jeruji itu
Kudus, 21April 2021


Tidak ada komentar:
Posting Komentar