Pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan oleh Solo Bersimfoni yang merupakan suatu wadah indenpenden berbentuk perkumpulan berbadan hukum yang konsen terdapat pengembangan karakter anak muda. Solo Bersimfoni ini menjadikan aspek budaya Jawa ( Solo ) menjadi instrument utama dan sebuah modal untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan cinta damai. Solo Bersimfoni menyebutnya sebagai “Hasthalaku”.
Hasthlaku sendiri merupakan frasa dari dua kata yang berasal dari Bahasa Jawa yaitu Hastha dan Laku. Hasta yang dalam Bahasa Indonesia berarti delapan dan Laku yang berarti perilaku. Jadi dalam Bahasa Indonesia, Hasthalaku adalah delapan perilaku. Dalam hal ini perilaku yang dimaksud adalah berdasarkan Nilai – nilai dalam budaya jawa. Hasthalaku ini sudah ada sejak dahulu, Solo Bersimfoni hanya menjaga Nilai - nilai budaya tersebut agar tetap berkembang dan bertumbuh untuk di jadikan dasar perilaku para remaja kota Solo dan sekitarnya.
Sesuai Namanya, Hasthalaku mempunyai 8 Nilai – nilai luhur yang diajarkan dalam Hasthalaku tersebut. Pertama, Gotong Royong artinya pemuda pemudi Solo harus memiliki sifat ringan tangan, atau lekas berbuat sesuatu ketika orang lain membutuhkan pertolongan, serta mampu menyelesaikan permasalahan bersama – sama. Kedua, Grapyak Semanak artinya pemuda pemudi harus memiliki sikap yang hangat dan mudah akrab dengan orang lain. Untuk mengimplementasikan nilai ini, perilaku ramah tamah merupakan model yang tepat untuk dilakukan. Ketiga, Guyup Rukun yang merupakan sebuah harapan ketika menanamkan nilai ini pemuda pemudi Solo dapat membina kehidupan yang damai, tanpa perselisihan, pertikaian dan konflik. Keempat, Lembah Manah merupakan nilai yang paling mendasar dalam kemanusiaan, yaitu sikap bathiniah yang rendah hati dan tidak menganggap dirinya lebih tingg dari orang lain. Kelima, Ewuh pakewuh adalah sikap sungkan serta menjungjung tinggi rasa hormat yang sangat kental dalam budaya masyarakat Jawa. Keenam, Pengerten, Indonesia merupakan negara yang mempunyai beragam budaya, salah satunya Kota Solo yang mempunyai kebudayaan besar yang tentunya berbeda dengan daerah lain. Di sinilah sifat pengertian akan kondisi sesama dibutuhkan, untuk mensyukuri dan menghormati perbedaan – perbedaan yang ada pada masyarakat. Ketujuh, Andhap Asor atau berbudi luhur adalah sifat yang selalu ditanamkan dalam pembelajaran di Sekolah - sekolah, karena sifat ini merupakan pondasi utama untuk menjunjung tinggi budaya dan tradisi luhur bangsa untuk menciptakan kebaikan hidup bersama. Kedelapan, Tepa Selira yaitu konsep tenggang rasa dalam hidup masyarakat Jawa. Artinya dengan menanamkan nilai ini, diharapkan pemuda – pemudi Solo bisa menumbuhkan rasa empati secara logis, yang bisa menumbuhkan rasa toleransi antar sesama.
Delapan Nilai - nilai luhur budaya tersebut merupakan sebuah kebudayaan yang telah turun menurun terutama pada Kota Solo. Nilai – nilai tersebut dijadiikan sebagai penguatan Pendidikan karakter. Dan hal ini merupakan suatu pondasi dalam berperilaku. Hasthalaku ini juga dapat digunakan dalam proses konseling dengan menggunakan Pendekatan Logoterapi yang merupakan proses bantuan yang dilakukan konselor kepada konseli untuk menemukan maka pribadi dalam hidup. Pendekatan ini adalan bentuk dari konseling yang berfokus pada masa depan. Frankl percaya bahwa manusia itu dimotivasi oleh sesuau yang disebut “will to meaning” yaitu keinginan untuk menemukan makna dalam hidup.
Hasthalaku ini bisa menjadi pondasi dalam penguatan karakter dalam mencari makna hidup, delapan Nilai – nilai budaya tersebut merupakan karakter karakter dasar yang berkonsep pada memanusiakan manusia. Seorang konselor yang berbudaya bisa dan mampu menanamkan Nilai – nilai Hasthalaku ini pada diri konseli dalam menemukan makna hidup. Hasthalaku ini juga dalam proses konseling bisa menjadi tempat pulang dari suatu permasalahan ketika seorang konseli keluar dalam Zona kemanusiaan. Hasthlaku ini juga dapat digunakan dalam Lintas Budaya, walaupun Hasthalaku ini berasal dari Kota Solo namun, Nilai – nilai tersebut dapat diterima oleh Budaya - budaya lain. Namun, Hasthalaku ini tidak bisa hanya diterapkan untuk klien, ketika konselor menyampaikan untuk menjadikan Hasthalaku sebagai pondasi dalam penguatasan karakter konseli maka konselor pun harus mampu menerapkan Nilai – nilai Budaya tersebut, karena Nilai – nilai Budaya ini memanusiakan manusia yang dimana ketika kita ingin dihargai maka kita perlu menghargai terlebih dahulu, begitu pula dengan penerapan Nilai – nilai tersebut dalam proses konseling.
Selain dalam proses konseling, Hasthalku juga dapat diberlakukan dalam Pendidikan yang dijalankan oleh bimbingan konseling yang dimana menerapka Hasthalaku pada Siswa -siswi seperti ketika siswa bertemu gurunya menunduk, masuk kelas harus mengetuk pintu, salam terlebih dahulu, cara berbicara, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terus-menerus dibiasakan dan tidak dapat dilakukan oleh satu orang, semua warga sekolah turut bersama-sama terlibat dalam mengimplementasikan Hasthalaku.
Dapat disimpulkan bahwa Hasthalku dengan Nilai – nilai Budaya ini selain diterapkan untuk pemuda pemudi Solo, Hasthalaku ini juga mampu digunakan sebagai pondasi utama dalam penguatan karakter dalam menemukan makna hidup yang dilakukan dalam konseling, yang dapat konselor berikan kepada klien. Hasthalaku ini juga sudah diterapkan dalam beberapa sekolah dalam lingkungan Jawa, karna Nilai – nilai Budaya terebut merupaan Nilai – nilai Budaya yang diterapkan pada Kota Solo. Hasthalaku ini merupakan pengembangan nilai budaya yang dilakukan oleh Solo Bersimfoni yang dimana merupakan wadah dalam kebudayaan kebudayaan yang ada pada Kota Solo.
*Aprillia Shofiatus Salma, Pengurus UKM KPN IAIN Kudus 2021.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar