-->

Nilai Tapa Ngeli dalam Konseling Humanistik


 

Kebudayaan memiliki cakupan arti yang luas. Kebudayaan adalah seluruh hasil karya manusia. Baik dalam bentuk gagasa, aktivitas atau artefak. Seluruh elemen tersebut digunakan sebagai pedoman bagi masyarakat sekitar. Termasuk nilai budaya yang dihasilkan oleh akal manusia untuk  mencapai kesempurnaan hidup dalam bentuk keyakinan direpesentasikan dalam tindakan untuk mengatur keselarasan, keseimbangan dan keserasian. Nilai budaya dalam hirarki adat istiadat memiliki tingkatan paling tinggi. Ini karena masyarakat menganggap nilai budaya bernilai, berharga, dan penting serta memiliki fungsi pedoman dalam orientasi kehidupan sehari-hari. 

Manusia memiliki kesadaran atas dirinya sendiri sehingga manusia memiliki tanggung jawab atas dirinya sendiri.  Manusia memiliki tujuan untuk menemukan makna dalam kehidupannya sendiri sehingga terciptalah nilai-nilai yang berguna untuk mengaktualisasikan diri menggunakan potensi-potensi yang dimiliki sampai taraf tertentu. Hal ini juga dapat membantu seseorang untuk menghadapi kecemasan akibat dari kegagalan dan memilih untuk menerima diri.

Dimasa yang dinamis ini nilai-nilai budaya mulai datang dan beralih. Mengingat saat ini tidak ada batasan antara ruang dan waktu dalam berkomunikasi. Sehingga informasi tersebar dengan cepat, mudah dan luas. Berbagai informasi terus mengalir setiap detiknya dari berbagai penjuru. Mulai dari makanan, pakaian, gaya hidup, berita terkini yang perlu untuk kita simak sebagai pengetahuan yang menjalar menjadi kebutuhan. Namun, tidak semua yang menjadi trend terkini perlu untuk diikuti karena pada dasarnya dalam kehidupan kita terpaut dengan nilai dan norma. Sehingga, diperlukannya nilai tapangeli yang membentengi diri  dalam kehidupan sehari-hari, Yang membuat kita tetap menyatu dengan globalisasi tetapi tidak terbawa arus yang deras.

Sunan Muria putra dari Sunan Kalijaga yang memiliki nama asli Raden Umar Said beliaulah yang mengajarkan  nilai Tapa Ngeli. Sunan muria memilih berdakwah pada kalangan masyarakat menengah daripada masyarakat menengah ke atas seperti bangsawan. Sunan Muria memiliki wilayah cakupan dakwah cukup luas mulai dari kudus, pati sampai pesisir utara.  Sunan muria berdakwah dengan moderat mencipatakan tembang macapat sinom dan kinanthi sebagai sarana ajakan mengamalkan ajaran islam. Ajaran Sunan Muria yang masih eksis di zaman khususnya desa Piji Wetan Lawu Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus ini dan masih terus digunakan adalah pager mangkok dan tapa ngeli. 

Tapa Ngeli berasal dari dua kata tapa dan ngeli. Tapa berarti menahan nafsu dan ngeli yang berarti mengalir. Tapa ngeli sendiri berati menghanyutkan diri namun tetap memiliki prinsip yang dimiliki. prinsip kepercayaan tapi bukan berati tidak searus dengan zaman yang dinamis ini. Seperti yang ditunjukkan oleh gaya dakwah kanjeng sunan muria yang luwes. Ditunjukan dengan membakar kemenyan dan menyerahkan sesaji dibarengi salawat dan doa selayaknya budaya yang berkembang masih kental akan sesaji kemenyan dan lainnya. Sunan kalijaga mengarus dengan budaya yang berkembang saat itu tetapi juga memiliki pedoman yang dianut.

Lalu apakah tapa ngeli ini masih bisa eksis di zaman ini? Jawabannya adalah tentu. mengingat tapa ngeli adalah satu nilai hasil dari akal budhi manusia yang menjadi pedoman dalam tindak laku. Karena tapa ngeli adalah nilai budaya yang menjadi pedoman kehidupan manusia tapa ngeli masih selaras dengan zaman baik dulu maupun sekarang. Tapa ngeli juga berkesinambungan dengan nilai budaya lainnya baik itu “nerimo ing pandum, gusjigang, tepo sliro, memayu hayuning bawana”. Karena nilai budaya adalah ilmu yang tidak bisa dipilih semuanya berkesinambungan antara satu sama lain,Sesuai dengan permasalahan apa yang tengah dihadapi.

Humanistik memandang manusia memiliki kesadaran, tanggng jawab atas diri mereka sendiri. Manusia adalah makhluk dengan julukan the self determining being yang mampu sepenuhnya menentukan tujuan-tujuan yang paling diinginkannya dan cara-cara mencapai tujuan itu yang dianggapnya paling benar dan paling tepat tepat. Tujuan dari konseling humanistik mwnurut Gerald Corey (2010) yaitu :

Sadar atas keadaan sekarang, hidup pada masa sekarang dan memikul tanggung jawab masa sekarang. Budaya saat ini dinamis terus berkembang kita saat ini hidup zaman saat ini yang mau tidak mau kita dituntut untuk hidup mengarus dengan zaman saat ini. Namun apakah hanya mengarus dengan segala kedinamisan yang ada?. Manusia memiliki kekuata untuk memilih bagaimana hidup masa sekarang dan memikul tanggung jawab atas apa yang dipilih hal itu perlu disadari untuk membantu mengahadapi kecemasan dengan Tindakan yang dipilih jika memiliki pedoman yang dipegang serta menerima kenyataan bahwa sedang hidup pada masa saat ini. Dengan budaya yang berkembang saat ini tik-tok, scroll sosial media setiap saat, membagikan kegiatan apa hari ini. Namun harus tetap memiliki pedoman yang dianut.


*Natasya Zuliya Pratiwi, Pengurus UKM KPN IAIN Kudus 2021.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer