-->

PANTANGAN WAYANG TERHADAP EKSISTENSI PERWAYANGAN DI DESA RAHTAWU


 
Sumber : Dokumentasi di Desa Rahtawu

Rahtawu merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus Jawa Tengah, Desa Rahtawu terletak di daerah ujung paling atas dari Kecamatan Gebog yang dikelilingi bukit-bukit terjal. Desa Rahtawu menyimpan sejarah tentang larangan pementasan wayang, yang mana pada zaman dahulu Desa Rahtawu merupakan tempat yang sering digelar pagelaran wayang. 

Masyarakat desa Rahtawu mempercayai bahwa adanya Iarangan pagelaran wayang. Wayang merupakan Salah satu kebudayaan yang di Indonesia. Di Rahtawu sendiri mengapa tidak boleh ada pagelaran wayang, Bukankah Desa rahtawu pada asalnya adalah desa yang terdapat banyak petilasan-petilasan tokoh pewayangan.

Wayang merupakan seni pertujukan yang berkembang pesat di sekitar wilayah jawa dan bali (bayu anggoro, 2018). Wayang merupakan pertunjukan boneka yang berasal dari berbagai macam bahan mulai dari kulit hewan, rumput atau kreasi lainnya yang mulai muncul dan  wayang terus berkembang jenisnya. Pewayangan di indonesia tidak bisa dipisahkan dengan kitab mahabarata dan ramayana yang berasal dari india dan meluas ke penjuru dunia salah satunya rahtawu.

Kisah pewayangan di desa Rahtawu dimana masyarakat beranggapan  bagian dari “Sapta Argo” atau tujuh gunung area Muria raya yang termasuk disakralkan oleh masyarakat dengan sebutan argo wukir. Hal ini tidak terlepas dari jasa Begawan Abiyoso yang melahirkan banyak tokoh sakti mulai dari raja Jayabaya, patih gajah mada masih memiliki hubungan darah dengan Bagawan yang akhirnya mengubjungi desa Rahtawu dibuktikan dengan adanya petilasan. Tak hanya itu petilasan dari para tokoh pewayangan juga banyak ditemukan di sekitar gunung rahtawu Tepatnya di Natas Angin Rahtawu. (Agus, 2023)

Dari hasil penelitian yang kami lakukan mengenai pantangan wayang kulit yang ada di rahtawu. Asal mula pantangan ini yaitu berkaitan dengan tidak sesuainya pagelaran wayang kulit yang dipentaskan dengan alur cerita wayang kulit zaman dulu. Di mana alur yang ada di tambah atau bahkan dikurangi dari alur cerita.
Sumber : Dokumentasi Wawancara di Desa Rahtawu
Jika dilihat dari dampak menggelar pewayangan tersebut dapat mengakibatkan bencana bagi masyarakat, bukan hanya perorangan tapi juga masyarakat sekitar juga terkena bencana.Dari beberapa kejadian tersebut pada tanggal 27 Januari 2023 terjadi banjir bandang dengan waktu 1 jam menyebabkan intensitas air membludak sehingga menyebabkan banjir dengan kerugian yang cukup besar berupa warung-warung disepanjang jalur sungai hanyut (detik.com, 2023) Menurut penjaga juru kunci Petilasan petapaan Eyang Sakri bahwa pewayangan tidak boleh disalah gunakan seperti mengubah alur, yang tadinya alur cerita wayang tersebut asli menjadi ditambahi atau dikurangi.

Desa Rahtawu adalah sebuah desa yang berada di kecamatan Gebog, kabupaten Kudus Jawa Tengah. Desa Rahtawu memiliii banyak tradisi dan budaya misalnya, kepercayaan masyarakat setempat tentang pantangan pagelaran wayang. Larangan pagelaran wayang di desa Rahtawu karena adanya banyak sekali peziarah  yang menyalahgunakannya seperti penglaris, memperdalam ilmu pendalangan dan lain-lain. Dari kejadian tersebut para peziarah mendapatkan balak atau musibah. Dari dampak pantangan pagelaran wayang di desa Rahtawu solusi yang dapat kami berikan yaitu mengubah alur wayang yang tidak sama dengan alur asli, menjadi alur yang runtut. Misalnya pada kitab Ramayana dan kitab Mahabarata yang sudah jelas keaslian alurnya.

Dari masalah yang telah dijelaskan kami dari kelompok Empat menawarkan Dua solusi, solusi yang pertama yaitu mengembalikan kisah asli yang saat ini sudah banyak terjadi perubahan yang dimana menyebabkan pagelaran wayang didesa Rahwtawu di tiadakan. Pengubahan alur tersebut kami berpatokan pada kitab kitab terdahulu yaitu,kitab mahabarata dan kitab ramayana. Dengan hal itu, penyebaran alur alur yang tidak sesuai dengan keaslian kitab dapat diluruskan kembali sesuai dengan isi kitab asli. 

Solusi kedua yang kami tawarkan yaitu, dengan menghargai kesakrakalan leluhur dengan tidak melaksanakan pagelaran wayang didesa rahtawu, selain menjaga desa rahtawu dari dampak dampak yang terjadi kita juga menghargai kebudayaan yang sudah leluhur tetapkan sedari dulu dengan tidak melaksanakan pagelaran wayang didesa Rahtawu dan untuk menjaga eksisitensj pewayangan di Rahtawu bisa menggunakan teknik cerita kepada anak-anak menggunakan metode lainnya seperti dari lisan ke lisan sebagai pengenalan terhadap kebudayaan khususnha perwayangan.

Hasil Penelitian oleh :
1. Masyhubin Firdaus
2. Ratna Saputra
3. Tania Ayu Maharani
4. Rahma Adha Tsania

 Hasil Mini Riset dalam Kegiatan Family Gathering (FG) UKM KPN Angkatan 2023

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer