Di tengah arus perkembangan zaman, sebagai generasi muda hendaknya memberikan inspirasi khususnya kepada masyarakat untuk menghargai, memahami, serta menjaga warisan agar budaya Indonesia tetap utuh dan tidak meninggailkan nilai-nilai budaya itu sendiri. Literasi budaya adalah pengikat antara masa lalu dan masa depan, mengurai benang merah yang mempersatukan generasi-generasi perjalanan panjang peradaban manusia. Membahas budaya tidak sekedar memahami ilmu pengetahuan, akan tetapi disertai dengan mengeksplorasi budaya sebagai kearifan lokal, merangkul perbedaan, menjalin kolaborasi antar komunitas budaya serta mengimplementasikannya secara nyata.
Pada Rabu, 05 Juni 2024. Komisi penalaran UKM KPN IAIN Kudus mengadakan kegiatan seminar Literasi Budaya yang tak kalah menarik dengan judul “Pentingnya Literasi Budaya sebagai Solusi Krisis Identitas Bangsa di Era Digitalisasi”. Kegiatan tersebut mengundang 3 Narasumber yang berpengalaman dalam bidangnya guna memberikan wawasan tentang bagaimana budaya kita membentuk identitas. Pemaparan tersebut disampaikan oleh Den Hasan (Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Jepara), Dr. H. Nur Said, S.Ag., M.Ag. (Founder Pesantren Literasi Prisma Qur’anuna dan Penggerak Literasi IAIN Kudus, serta Ibu Metta Hermawati, S.T (Pamong Budaya Ahli Muda, Permuseuman, dan Kepurbakalaan Bid. Kebudayaan, Kudus).
Pertama, materi disampaikan oleh Bu Metta Hermawati, S.T beliau menuturkan bahwa makna literasi budaya yaitu kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan dari suatu hasil karya/cipta, kebiasaan/adat, untuk kecakapan hidup. Beliau juga menyampaikan literasi budaya merupakan identitas diri dan merupakan proses pembentukan karakter.
Materi kedua disampaikan oleh Den Hasan beliau banyak bercerita tentang kegiatan-kegiatan yang ada di rumah belajar Ilalang. Sebuah tempat belajar yang didirikan oleh beliau dengan tujuan berkonsentrasi pada bidang pendidikan (pendidikan dalam kategori luas). Pendidikan disini sasarannya adalah masyarakat dengan melakukan pendekatan melalui lingkungan ekologi, seni budaya, serta menghadirkan permainan tradisional dan dongeng. Lewat media itulah yang digunakan untuk berinteraksi dengan anak-anak.
Materi ketiga disampaikan oleh Dr. H. Nur Said, S.Ag., M.Ag. Beliau menceritakan latar belakang berdirinya Lentera Gusjigang sebagai ruang kreasi, ngaji, dan dagang. Beliau mengemukakan bahwa spirit jigang ini ditanamkan sejak lama oleh Sunan Kudus, kendati ini tidak bisa mengenaralisasi bahwa semua orang (wong) Kudus memahami spirit ini. Yang jelas, jigang menjadi budaya yang demikian populer dan membanggakan secara sosiologis.
Setelah pemaparan materi dari para narasumber yang luar biasa lalu di lanjut dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi ini ada 3 orang penanya. Mereka saling mengungkapkan apa yang belum jelas terkait materi. Setelah 3 penanya menyampaikan pertanyaannya lalu di jawab oleh para narasumber. Setelah sesi diskusi atau tanya jawab diakhiri dengan sesi penyerahan sertifikat dan foto bersama.
*Pengurus Div. Riset dan Kepenulisan UKM KPN IAIN Kudus 2024.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar