Seni Merayu Tuhan. Bedah buku oleh Fahmil Wafa (pemateri) dan Lailatul Shifa Aulia (moderator), Kamis, 2 Mei 2024, pukul 4 sore. Pernahkah terlintas pada benak kita, jika Tuhan Maha Pengasih, lantas perlukah kita merayu-Nya?
"Allah maha indah dan menyukai keindahan, maka dekati Dia dengan rayuan yang begitu romantis." Sebab amal kita bukanlah alat ukur untuk menuju surga, melainkan hanya rahmat-Nya yang menjadikan kita penghuni surga.
Dalam kalimat tersebut tertulis jika sebanyak apapun amal kita, tetapi Allah tidak meridhai maka belum cukup bagi kita untuk menjadi salah satu ham banya yang bisa menginjakan diri di surga impian orang di seluruh dunia. Oleh karena itu, di bedah buku kali ini narasumber kita menekankan caranya "Beragama dengan cinta: Merayu bukan mendikte."
Salah satu cara paling sederhana yang bisa dilakukan setiap manusia dengan begitu mudah yaitu. beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Gunakan seluruh ciptaannya untuk beribadah, memohon hanya kepada-Nya. Karena percuma dengan fisik sempurna, tetapi ibadah saja masih sering lupa.
Begitu luar biasa sekali, rahmat yang diberikan Allah untuk umatnya. Sangat indah sekali bukan ajaran agama islam ini sangat teduh, santai, dan tanpa menghakimi seperti yang ada dalam buku Seni Merayu Tuhan tersebut Semoga dengan adanya buku dan pembahasan ini dapat menjadikan pembaca menjadi lebih bersyukur dan meningkatkan ketaqwaan kita dan kalian semua. Bahkan menjadi hikmah yang luar biasa bagi kita semua, untuk lebih dekat kepada-Nya. Selangkah lebih dekat dengan-Nya, maka selangkah lebih dekat juga dengan surga-Nya.
Tujuan merayu tuhan adalah ibadah yang penuh dengan ketulusan, bukan hanya sekedar memenuhi kewajiban.
*Naswa dan Ageng, Pengurus UKM KPN IAIN Kudus.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar