-->

DARURAT PERUNDUNGAN: RUSAKNYA NILAI LUHUR PESANTREN DI MATA MASYARAKAT


     Perundungan merajale tidak hanya di lingkungan sekolah formal saja, melainkan merebah ke dalam lingkup pesantren juga. Perundungan yang di lakukan oleh seorang senior atau sebayanya banyak merugikan santri yang menjadi korban perundungan tersebut. Naas semakin banyaknya kasus perundungan di pesantren menyebabkan tindakan tersebut lumrah dan maklum terjadi sehingga menyebabkan lalainya dan acuh tak acuh badan kepengurusan pondok mengenai kasus tersebut.

     Dalam pesantren banyak sekali ragam siswa yang mempunyai karakter, latar belakang, minat bakat, serta keilmuan yang di milikinya, sehingga di dalamnya terdapat berbagai macam interaksi, yang mana dari interaksi tersebut kadang kalanya menimbulkan sebuah konflik antar santri dengan santri lain. Konflik tersebut tentunya sangat berbahaya dan mempunyai pengaruh negatif bagi santri, sehingga sering kali Kyai langsung turun tangan dan menyelesaikan hal tersebut di lokasi. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi membuat transparansi proses belajar di dalamnya, baik dari hal yang positifnya maupun hal yang negatif itu keluar ke khalayak ramai (media sosial) yang mana diperlihatkan banyaknya kasus-kasus perundingan, bullying. pemerkosaan, bahkan sampai meregut nyawa.

    Dilansir dari CNN Indonesia menyebutkan kronologi santri di Kediri meninggal di aniaya seniornya dan banyak lagi berita terkait mengenai kasus tersebut. Banyaknya hal seperti itu menyebabkan kita sering menemukan postingan postingan di media sosial, baik itu Facebook, Instagram, twit appter, dan tiktok. Dengan banyaknya berita tersebut membuat rusaknya nilai luhur pondok pesantren di mata masyarakat, yang awalnya sebagai wadah untuk menciptakan manusia beragama dan berakhlakul karimah menjadi tempat perundingan senior yang semena-mena, bahkan yang berkomentar dalam kolom komentar dimayoritasi oleh kaum orang tua, ada yang menyebutkan pula mereka akan berpikir dua tiga kali menaruh anak mereka dipondok"

    Dari kasus di atas tidak menyalahkan pihak pondok, pemerintah, maupun orang tua korban, yang mana dalam memilih pesantren tidak memeriksa indentitas pengasuh, pola pembelajaran disana, dan memperhatikan santri-santri yang ada dalam pondok tersebut. Sangat memprihatinkan dan sayangkan dengan adanya nyawa yang melayang barulah masyarakat sedikit tersadar tentang pentingnya perhatian lebih terhadap pentingnya kita menganalisis terlebih dahulu lembaga pendidikan. maupun santri yang terdapat dalam pesantren sebelum menempatkan anaknya, sehingga nantinya sang anak dapat belajar dengan efektif dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat di pesantren tersebut.


*Muhammad Kharis Ulinnuha, Pengurus UKM KPN IAIN Kudus 2022.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer