Perguruan tinggi adalah suatu institusi untuk mencetak para sarjana terampil dan orang yang belajar di perguruan tinggi disebut mahasiswa. Mahasiswa disebut mahasiswa karena ia menduduki puncak sekolah formal dan tidak ada yang lebih tinggi lagi di sekolah formal. Banyak siswa yang mendambakan menjadi mahasiswa karena katanya bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan penghasilannya di atas rata-rata. Menjadi mahasiswa merupakan hal menyenangkan dalam benak para siswa karena tidak harus pakai seragam yang sama, pakaian yang bebas, tidak ada PR dan sebagainya. Menjadi mahasiswa merupakan hal yang sangat indah menurut mereka karena kebebasan yang diperolehnya dan sangat berbeda dengan dunia SLTA yang ketat, formal, membosankan, dan bikin pusing karena banyak tugas yang diberikan guru.
Kenyataan yang dihadapkan dengan mahasiswa bukanlah seindah itu. Menjadi mahasiswa itu susah-susah senang, karena ternyata banyak sekali persoalan yang ada di lapangan. Persoalan pertama, biaya PBAK yang terlalu mahal dan tak sebanding dengan fasilitas yang didapatkan coba bayangkan mahasiswa baru disuruh bayar seratus lima puluh ribu dan hanya mendapatkan makan siang, perlengkapan PBAK yang tak seberapa harganya hingga hiburan yang terkesan seadanya. Selain itu tempat PBAK juga ada yang tidak layak seperti lokasi PBAK fakultas dakwah dan komunikasi islam yang ditaruh di gedung "S" yang berdesakan dan bahkan sampai duduk di tangga gedung sebenarnya itu PBAK atau lokasi pengungsian? Wkwk. Juga terkait dana PBAK apakah panitia meraup keuntungan dalam kegiatan tersebut dikarenakan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan fasilitas yang didapat? Yo ndak tau kok tanya saya wkwk tanya sama panitia PBAK dan minta laporan keuangan acara PBAK (itupun kalo panitianya berani terbuka soal data).
Kedua, adalah panitia dengan sengaja menyisipkan doktrin kepada peserta PBAK dengan organisasi ekstra yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan PBAK. Agak norak memang panitia yang merupakan delegasi dari organisasi internal kampus menggunakan PIN hingga kaos organ ekstra dalam kegiatan PBAK. Tak hanya itu Mahasiswa baru juga disuruh menyanyikan lagu organisasi tertentu yang tidak ada hubungannya dengan budaya akademis dan kemahasiswaan. Ya memang sifat norak dari panitia harus kita tertawakan bersama dan kemudian muncul pertanyaan kampus ini sebenarnya kampus negeri apa kampus Ormas? Kalo dijawab disini saya tidak aman dong wkwk.
Ketiga, tenaga pengajar yang tidak mumpuni. Loh kok tidak mempuni? Kan harusnya dosen itu minimal harus S2? Iya memang benar, tapi mereka mengajar di mata kuliah yang bukan keahliannya. Seperti lulusan pendidikan mengajar mata kuliah logika, lulusan sosiologi mengajar mata kuliah agama dan banyak lagi yang terjadi. Seharusnya mereka mengajar sesuai dengan keahlian, bukan kebutuhan/tuntutan kampus. Jadi jangan heran jika perkuliahan hanya disuruh meresume materi dan ditulis dalam kertas folio kemudian dikumpulkan di ruangan dosen, enak kan?
Keempat, minimnya fasilitas yang didapat. Dimana semua serba seadanya, mulai dari kurangnya laboratorium, ruangan untuk HMPS(himpunan mahasiswa program studi), gedung perkuliahan yang tidak dilengkapi dengan wifi, AC mati, kurangnya lahan parkir hingga buku perpustakaan yang terbatas. Kekurangan itu harus saya terima dengan berat hati karena ya harus gimana lagi, mau protes juga harus protes kemana?
Kelima, hambarnya sistem perkuliahan. Perkuliahan adalah sesuatu hal yang hambar menurutku, karena sistem perkuliahannya yang cuma itu-itu saja dan tanpa variasi. Presentasi, tugas, penjelasan dosen yang tidak jelas merupakan makanan sehari-hari saya di kampus, sehingga semakin hari kuliah itu semakin bosan karena cuma itu-itu saja tidak ada hal yang menarik sama sekali.
Keenam, minimnya dana yang kampus berikan pada organisasi internalnya. Untuk tingkatan himpunan masiswa prodi, hanya mendapat 7 juta pertahun. Uang segitu dituntut untuk bikin acara yang banyak dan bermanfaat. Padahal uang segitu hanya cukup untuk satu event besar saja, kadang malah kurang sehingga memaksa anggotanya untuk patungan untuk menutupi kekurangan dana tersebut. Apa uang dari kampus harus digunakan buat judi supaya dapat hasil yang lebih besar? Mengingat tuntutan kampus yang sangat besar dengan pendanaan yang sangat minim tentunya.
Ketujuh, mengkasihani mahasiswa angkatan 2021 dan 2022 yang mendapatkan UKT tinggi tapi tak sebanding dengan fasilitas yang disediakan, ini merupakan hal yang lucu, karena sudah saya jelaskan diatas bahwa fasilitas kampus yang sangat minim, ya SANGAT MINIM SEKALI!. Kok bisa pihak kampus memutuskan hal yang unik sekali, loh kok unik sih? Ya jelaslah itu unik, bisa-bisanya kampus menaikan UKT tanpa adanya penambahan fasilitas yang signifikan.
Itulah beberapa minus dari kampusku yang gak minus-minus amat. Walaupun banyak SEKALI kekurangannya, saya tetap cinta kampus dan para penghuninya(perempuan idaman). Saya mengharapkan kemajuan kampus terjadi tanpa memberatkan pihak mana pun biar sama-sama menyenangkan tentunya.
*Arif Lukman Hakim, Pengurus UKM KPN IAIN Kudus 2019.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar