Beberapa tahun yang lalu, sumur ini tak ada bedanya dengan bangunan kuno yang telah usang. Dalam sehari, seminggu, bahkan berbulan-bulan tak banyak orang yang hendak berkunjung. Barangkali hanya setahun sekali penduduk yang berkenan datang, saat acara sedekah bumi atau yang sering mereka sebut gas deso. Itupun, mungkin hanya orang-orang tua yang usianya kebanyakan sudah sampai 65 tahun lebih. Berbeda dengan Kek Mukidi, kakekku, dengan tergopoh-gopoh lelaki tua 70 tahunan lebih ini hampir setiap hari jumat menyempatkan waktu untuk berkunjung. Kala itu, aku sering merengek, berharap Kek Mukidi bersedia mengajakku setiap kali ia hendak berkunjung kesana. Tapi bunda selalu melarang, bahkan jika tangisku tiada henti setelah mendapat penolakan, bukan belas kasih yang kudapat. Bunda tak segan menampol pahaku atau menjewer kupingku hingga merah legam. Pernah suatu kali aku bertanya, mengapa Kek Mukidi selalu kesana setiap hari jumat? Mengapa bunda tak pernah ikut? Mengapa bunda dan kakek juga tak pernah mengizinkanku untuk ikut? Setelah puas aku hujam bunda dengan berbagai petanyaan, bunda menatapku lekat dan memintaku untuk mendekat. Kudekati badan perempuan yang sering menjewerku itu tanpa sedikit pun ketakutan. Bunda tersenyum lalu mengusap-usap kepalaku yang sedikit botak setelah dicukur kakek tadi sore.
“Nang cah bagus, kakekmu sering lupa waktu kalo sudah sampai sana, bahkan kadang ia juga sekalian bermalaman. Kamu kan harus ke sekolah sabtu pagi” begitulah bunda menjawab segelintir dari beberapa yang kutanyakan.
“Apa yang kakek lakukan disana bunda?”
“Kakekmu ziarah ke canggah-canggah dan buyut-buyutmu yang ada di sendang itu, kakekmu meminta doa dari para leluhur untuk keselamatan keluarga kita, sanak saudara, guru-guru dan teman-temanmu, keluarga teman-temanmu, juga tetangga-tetangga kita” Aku masih menyimak jawaban bunda dengan penuh perhatian.
“Apa kakek juga berdoa untuk keselamatan keluarga siti bunda?” wajah bunda tiba-tiba saja berubah masam. Kuulang pertanyaan itu untuk kedua kalinya. Bunda tak kunjung menjawab. Suara adzan asar mengakhiri kesempatanku mengulang pertanyaan sama ketiga kalinya. Tanpa diminta aku pun segera ke belakang untuk mandi meski dengan kekecewaan. Aku tak berani lagi menunda mandi setelah adzan asar. Setelahnya aku harus pergi ke Langgar mengaji. Jika tidak, tampolan bunda pada pahaku tak akan terelakan. Kata bunda, rajinlah mengaji agar engkau disayang tuhan, dilimpahi rahmat, agar selamatan juga hidupmu hingga nanti.
Di langgar aku bertemu kawan-kawan yang sama, sama saat sekolah, mencari belut dan jangkrik, juga kawan-kawan yang menghabiskan waktu denganku berjam-jam lamanya ciblon di Kali Lusi; sungai yang melingkari setengah bagian kota bagian selatan. Juga aku bertemu siti; teman perempuan yang usianya dua tahun lebih muda dari usiaku. Aku juga sering mencari jangkrik dan ikan bersamanya. Jika sudah terkumpul banyak, aku, Siti, dan kawan-kawan lain akan riang gembira membakar ikannya dan makan sambil berbagi cerita diselingi gelagak tawa yang panjang hingga senja menguasai pelataran langit. Sering tak kuceritakan perjumpaanku dengan Siti pada bunda. Bunda tak senang hati saat kukabarkan cerita-ceritaku bersama Siti. Entah mengapa, ia pun tak pernah menjawab saat kutanya alasannya. Hingga suatu kali, kujumpai kakek yang telah pulang dari sendang yang letaknya cukup jauh dari rumah kami. Kutanyakan pertanyaan yang tak kudapat jawabannya dari bunda.
Dengan sambutan riang aku mendekat “Apa kakek tadi berdoa untuk keselamatan keluarga Siti kek,” tidak langsung menjawab, kakek malah memandang bunda yang tengah asik menjahit celanaku yang robek. Bunda berhenti menjahit lalu memandang kakek kembali dengan muka kecut.
“Tidak perlu mendoakan orang yang sesat, orang yang serakah, orang yang kerjanya menimbun dosa setiap hari, mereka tidak akan selamat, tuhan tidak suka” tiba-tiba dengan tanpa kutanya, bunda menjawabnya dengan muka yang masih masam dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Kek Mukidi hanya diam, sesekali menatap wajah bunda. Aku tak berani bertanya lagi. Kakek lalu menatapku dengan senyum pada wajahnya yang keriput, dan berpeluh-peluh itu. Meski bunda mengatakan hal tersebut pada kupingku, tak juga aku mau menjahui Siti. Saat usiaku masih tuju tahun, sama seperti usia Siti bulan Agustus nanti, tepatnya dua hari setelah peringatan kemerdekaan yang baru seumur jagung, aku selalu mengikutkannya bersamaku dan kakek saat menghadiri hajatan tetangga sebelah, atau syukuran lurah baru, atau juga syukuran keluarga yang lakinya baru tiba dari kota. Dengan senang hati, Bunda juga sering memberinya kopang, juga grontol yang di buatnya sejak pukul tiga setelah menumbuk jagung bersama adik-adik bunda, juga Ibu Siti yang menjadi buroh angon kakek kala itu. Aku sering mengajari siti cara menggunakan ketapel untuk mengusir burung-burung yang kerjanya mematuki tanaman di sawah. Hingga pernah suatu kali, Siti menggunakan ketapel dengan terbalik, langsung saja lebam mata Siti berhari-hari. Bunda menjewerku, dan berhari-hari Siti tak mau menemuiku. Mungkin pikirnya aku sengaja ingin mengerjainya seperti beberapa waktu sebelum-belumnya. Kuucapkan permintaan maaf bersama kuberikan satu diantara beberapa mainan kayu buatan kakek. Betapa bungahnya ia dan menerima ajakanku memandikan kerbau-kerbau bersama bunda, kakek, juga Ibu Siti di kali lusi.
Seperti usia kemerdekaan Indonesia kali itu yang masih seumur jagung, begitu juga hubungan keluargaku dengan keluarga Siti. Semenjak Bapak Siti tiba, setelah kepergiannya dari Tuban. Pagi betul Ibu Siti datang menemui bunda. Aku yang baru saja bangun untuk sembahyang mendengar percakapan bunda dengan Ibu Siti.
“Aku tak keberatan jika kerbaumu ikut bersama di kandang kami, kau bisa mengembalanya bersama kerbau-kerbau kami, lagi pula kerbaumu hanya satu,” suara bunda membujuk.
“Tidak ndoro, Mbah Siti berpesan agar kami hanya fokus mengurus kerbau yang baru saja kami dapat darinya” ibu siti menjawabnya dengan penuh hormat, dengan menundukkan kepala.
Bunda hanya tersenyum mendengarnya. Dengan isyarat tangan yang di sentuhkannya berkali-kali ke kursi panjang yang terbuat dari jati itu, bunda meminta Ibu Siti duduk di sebelahnya. Segeralah Ibu Siti duduk di samping bunda. Dielus-elusnya tangan Ibu Siti.
“Aku tak pernah keberatan jika engkau ingin berhenti mengurusi kerbau-kerbau kami, hanya saja bukankah sebentar lagi Siti akan kau sekolahkan?”
“Itu memang cita-cita saya dari dulu ndoro, bungah sangat setiap kali saya dengar cerita ndoro tentang perjuangan R. A. Kartini dan Dewi Sartika, berharap dengan segala rahmat tuhan, kelak Siti juga tumbuh menjadi perempuan hebat seperti mereka” tiba-tiba nampak raut sedih tergambar luas dalam wajah Bu Siti. Tak berselang lama ia lanjutkan ucapannya.
“Tetapi, setelah saya pikirkan lagi dengan suami, kami sadar, kami bukan golongan priyayi seperti keluarga ndoro, juga apalagi orang-orang yang lahir dengan segala keberuntungannya. Alangkah lebih baik jika kami biarkan Siti ikut mengurus kerbau kami, sambil menunggu dua atau tiga tahun lagi untuk kami kawinkan” bunda sedikit kaget mendengarnya.
“Kawinkan?”
“Njih ndoro, kami hendak kawinkan putri semata wayang kami dengan anak teman yang sekarang sedang menetap di Surabaya, kudengar beberapa bulan lalu saat perjumpaan kami di Rembang, anaknya tumbuh menjadi pria yang piawai dan cikatan. Seperti dapat dipastikan kelak ia akan menjadi pelaut yang hebat.”
“Yakinkah kau Sumitri?” Ibu Siti terdiam.
”Siti adalah anak yang pintar dan berbudi luhur, barangkali jika ia di sekolahkan, ia akan membawa berkah untuk kau dan suamimu, lagipula ia masih kecil. Tak eloklah kau kawinkan anak sekecil itu.”
“Kami telah merundingkannya jauh-jauh hari ndoro, semua keluarga pun sudah sepakat dengan keputusan ini.”
Kulihat bunda sepertinya sudah tak ingin membujuk Bu Siti lagi. Aku kenal bunda, ia tak suka memaksa orang lain, selain aku. Tentu saja, aku adalah anak bunda. Tak akan bunda biarkan aku keluar dari tatanan moral yang telah dibangun sejak nenek-buyut kami.
Sejak pagi itu, tak sering lagi kuajak Siti menaiki dan memandikan kerbau milik kakek. Tak sering lagi kuajaknya bermain ketapel di sawah. Tapi kami masih berteman baik. Beberapa kali kami masih bermain bersama. Hingga dua tahun berikutnya, kulihat kerbau-kerbau Siti menjadi banyak. Kutanyakan pada kakek. Katanya, selain kerbau milik keluarga Siti sendiri, konon itu juga pemberian dari saudara Siti yang rumahnya Kudus. Saudaranya telah meninggal, dan semasa hidup ia sebatangkara. Suaminya telah wafat satu bulan setelah pernikahan. Dan saudara Siti tak sempat mengandung. Sejak itu, aku semakin jarang bermain dengan Siti. Tahun berikutnya kerbau Siti semakin banyak. Ibu Siti sampai membuat kandang lagi. Bahkan keluarga Siti memiliki beberapa buroh angon. Jadilah semenjak itu, orang tua Siti menjadi juragan kerbau. Jumlah kerbaunya, mampu mengalahkan jumlah kerbau kakek, yang kala itu awalnya kakeklah pemilik kerbau terbanyak di desa. Semenjak itu pula, tak kulihat lagi bunda yang kadang bertegur sapa dengan Ibu Siti saat bertemu. Bunda juga tak mengizinkanku lagi untuk bermain dengan Siti. Katanya, hati-hati nang, mereka telah melakukan perbuatan yang musyrik. Tak mengerti juga aku mengapa bunda mengatakan hal demikian. Tapi tetap saja beberapa waktu aku main dengan Siti.
Pada suatu hari, kulihat kerbau-kerbau Siti diangkut truk. Hal itu cukup menjadi pemandangan yang menarik di tonton. Apalagi, juga kulihat Ibu Siti yang menangis tiada henti, juga mukanya yang lebam. Tak luput dari pandanganku, Siti juga menangis kala itu. Tangannya yang mungil mencoba melingkar di tubuh ibunya yang sedang lara. Aku tak bisa mendekat. Sedang ramai di sana warga menonton. Aku akan seperti anak kecil yang yang sok peduli dengan ketidak tahuanku. Tak mungkin kutanyakan dengan bunda, nasib buruk apa lagi yang sedang melanda keluarga Siti.
Berita keluarga Siti menjadi perbincangan yang di sebar sana-sini. Aku benar-benar tak berani bermain dengan Siti kali ini. Bunda semakin tegas melarangnya. Bahkan mengancam akan mengurungku di kandang bersama kerbau-kerbau kakek. Biasanya, aku tak akan setakut ini dengan ancaman bunda. Tapi kali ini berbeda, ada yang aneh dari keluarga Siti. Beberapa hari lamanya, barulah aku tahu ceritanya dari Bani temanku mencari belut. Bani tak sengaja mendengar percakapan antara Ibu Bani dengan Yu Ngatiem, tetangga sebelah. Dalam ceritanya, berbulan-bulan lalu Ayah Siti tak pulang ke rumah. Awalnya Ayah Siti pamit hendak Ziarah ke Rembang, katanya calon suami Siti meninggal saat perjalanan melaut menuju perairan bali. Sebagai kabar buruk juga bagi keluarga Siti, pergilah Ayah Siti ke Rembang. Berbulan-bulan tak kembali nan tak ada kabar, resahlah hati Ibu Siti dan Siti. Hingga tiba suatu hari, Bapak Siti datang dengan membawa truk yang entah milik siapa. Tanpa membawa kabar atau pesan apapun dari Rembang, Bapak Siti langsung pergi ke kandang diiringi beberapa orang dibelakangnya, lalu diangkutlah kerbau-kerbau miliknya. Konon, dalam kedatangannya ke Rembang, Bapak Siti bertemu perempuan yang mengaku tinggal di Tuban. Perempuan itu sebenarnya juga saudara calon besannya yang tak jadi. Sama seperti Bapak Siti, yang datang untuk berbela sungkawa. Batallah Siti diperistri laki-laki yang digadang-gadang akan menjadi pelaut hebat, malah bapaknya yang mendapat perempuan baru dari saudara calon besannya yang tak jadi. Dengan begitu, kembalilah Bapak Siti ke Blora untuk menjual kerbau-kerbau yang akan digunakan modal kawin lagi. Hancurlah hati Ibu Siti dan Siti. Bani juga bercerita, Ibu Siti sekarang menjadi orang sinting yang kerjanya mengurung diri di kandang kerbau bersama satu kerbau Siti yang tersisa. Tak sampai hati kudengarnya. Tak mungkin juga kutemui Siti. Kadang-kadang kami bertemu di sungai saat aku hendak membantu kakek memandikan kerbau. Begitu pula Siti, yang ke sungai untuk memandikan kerbau dan ibunya. Melihatku bersama kakek dan bunda, Siti segera menghindar dengan wajah ketakutan. Sebenarnya kakek tak pernah melarangku bermain dengan Siti. Tapi bunda, tetap sama seperti yang keceritakan sebelumnya.
Beberapa tahun setelahnya, usiaku telah menginjak 15 tahun. Karena pesan dari mendiang ayah, diantarlah aku ke Jawa Timur untuk belajar ilmu agama disana. Pada bunda, kuberanikan diri meminta izin pamit dengan Siti sebelum berangkat. Dengan diam beberapa waktu setelah kuutarakan, tergeraklah hati bunda untuk memberi izin. Maka pergilah aku ke rumah Siti. Kutemukan dirinya tengah menyapu halaman rumah. Dilihatnya aku dengan wajah tak yakin. Aku mendekat.
*********
Jalan-jalan kota mengembalikan hari-hari yang pernah terjadi. Hari-hari lalu menyewa waktu hari ini. Hari ini menyeret rekaman orang-orang terkasih masa lalu. Bunda, Kakek Mukidi, Siti, dan teman-teman lainya, bagaimana kabar mereka?
Delman suruhan kakek telah tiba membawaku pulang ke depan rumah. Betapa bungah hati bunda menyambutku. Anak lanang semata wayangnya yang bertahun-tahun menimba ilmu di daerah seberang. Sedang kakek di sendang kata bunda. Di peluknya erat tubuhku, lalu dimintanya masuk untuk menyantap masakan-masakan yang sepertinya dimasak bunda sendiri. Wajah Siti tiba-tiba terngiang. Sebenarnya tadi aku sempat melihatnya tengah sibuk menyisiri rambut Ibu Siti saat melewati rumah reot itu, tak kusapa akhirnya. Kukabarkan pada bunda tentang Siti yang kulihat tadi. Wajah bunda kembali masam, seperti sebelum-belumnya ketika kusebut keluarga Siti di depannya.
“Dia sekarang telah menjadi janda” kata bunda tiba-tiba. Bukan main kagetnya aku mendengar kata bunda. Bunda menatapku lamat-lamat.
“Tiga tahun yang lalu, Muslim anak ustadz yang punya langgar dekat rumahnya mengawininya. Baru tiga bulan belum genap usia pernikahan mereka, Muslim meninggal tertabrak truk saat hendak beli kitab di kota, kata saksi mata, sopirnya nyetir dalam keadaan mabok.”
“Sungguh malang nasib Siti bunda, semua miliknya pergi dengan pelan-pelan dan bergantian.”
“Itulah sebabnya tak kuberi izin kau dekat-dekat dengannya dulu, keluarga mereka kualat. Nanti kau ikut kena getahnya,” hampir saja berontak kudengar bunda mengatakan itu. Tapi tidaklah, aku baru saja tiba. Tak mungkin kutunjukan uring-uringanku setelah bertahun-tahun menimba ilmu agama jauh dari kota.
Pada suatu malam, bunda memasuki kamarku. Aku yang sedang membaca kitab, seketika berhenti. Kucium punggung tangannya yang bersih dan putih. Ia mengelus-elus rambutku. Belum sampai kuangkat kepala untuk memandang wajah yang teduh itu, bunda mengatakan sesuatu padaku.
“Bunda ingin memberitahumu rahasia tentang keluarga Siti le,” seketika ambyarlah pikiranku.
Pada malam itu, barulah kutahu rahasia keluarga Siti dari bunda. Rahasia yang belum pernah ku dengar sebelumnya dari siapapun. Tentang keluarga Siti, tentang nenek Siti, yang konon telah bersekutu dengan setan setelah pulang haji. Nenek Siti pulang dari kota suci dengan membawa jumrah yang selalu dibawanya kemana-kemana. Jumrah yang seharusnya di lemparkan sebagai simbol melempar setan malah dijadikan alat untuk mencari pesugihan. Dari situlah baru kutahu lagi, ternyata berkat jumrah itulah banyak akhirnya kerbau-kerbau milik keluarga Siti. Tapi Ibu Siti tak pernah tahu, ia hanya menjalankan apa yang diminta nenek Siti. Setiap malam jumat kliwon, Ibu Siti dan Bapak Siti selalu diminta mengirimkan sajen ke sendang. Hingga akhirnya, keserakahan Bapak Siti membawa petaka. Mengetahui karena jumrah itu kerbau-kerbau mereka menjadi banyak, dicuri, dan dibawa pergilah benda itu bersamaan saat Bapak Siti mengangkut kerbau-kerbau milik keluarga Siti. Kala itu, dengan kekecewaan yang mendalam, hancurlah hati dan pikiran jernih Ibu Siti. Suatu ketika, saat Ibu Siti hendak memberi makan kerbaunya yang tingal satu, betapa kagetnya ia melihat banyak ular yang hampir memenuhi pelataran kandang. Konon, ular-ular itu adalah jelmaan dari jumrah yang telah dicuri Bapak Siti. Bapak Siti takkan bisa membawa jumrahnya pergi, karena jumrah itu akan kembali pada pemiliknya. Kekagetan Ibu Siti itulah yang mengantarnya pada kesintingan hingga akhir hayatnya, tapi banyak warga mengira kepergian Bapak Siti adalah alasan satu-satunya. Semenjak nenek Siti meninggal, jumrah itu dipercaya masuk ke tubuh Ibu Siti. Karena itulah, ibu siti tak akan pernah bisa kembali waras. Beberapa orang pintar mengatakan, bahwa Ibu Siti telah menjadi tumbal dari perbuatan nenek Siti. Karenanya, orang-orang pintar yang mencoba menyembuhkan kesintingan Ibu Siti sama halnya mencoba menyerahkan nyawanya pada setan. Dan tentang sendang itu, sendang yang pernah dikunjungi keluarga Siti setiap malam jumat kliwon, sendang yang juga sering dikunjungi kakek, sendang yang juga dikaitkan pada nasib buruk keluarga Siti. Sendang yang kata bunda adalah tempat menyepinya moyang-moyang kami yang alim, rajin berpuasa, dan tirakatnya luar biasa. Kata bunda kembali, menutup ceritanya. “Yang datang bersih hatinya akan kembali membawa ketenangan,yang datang salah niatnya, maka kepalanglah orang itu.” Semenjak itu hanya beberapa orang yang berani datang ke sendang.
*******
Keesokan harinya kulihat Siti sedang memandikan ibunya seorang diri di kali. Tidak juga kulihat ia memandikan kerbau seekor pun. Sesekali ia melihatku tanpa sapa, tanpa kata. Betapa malangnya kawanku itu. Padanya semua pergi pelan-pelan. Padanya semua pergi bergantian.
Blora, 2022
*Istiqomah, Pengurus UKM KPN IAIN Kudus 2021.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar