-->

Ketika si Kaya Menyulut Perang, si Miskinlah yang Mati


 

Pertumpahan darah adalah bagian dari sejarah umat manusia. Tangisan, dendam dan kebencian merupakan rasa yang selalu menyelubungi manusia saat perang. Berbagai kepentingan yang menghasilkan konflik, tidak bisa didamaikan, merubah manusia menjadi makhluk yang deskruptif. Mereka mempertahankan diri dengan membunuh yang lain. Yang lain selalu diwanti-wanti menyerang dan menusuk dari segala arah, yang lain selalu dicurigai. Sehingga sejarah umat manusia adalah penuh dengan pertumbuhan darah.

Siapakah yang mampu menyulut perang? Apakah kakek dikaki gunung yang bekerja sebagai petani mampu menggerakkan seluruh elemen masyarakat untuk melawan dominasi yang menindas?. Semua orang memang bisa menyulut perang akan tetapi yang bisa menyulut perang pasti yang memiliki potensi yang besar. Potensi apakah yang menciptakan perang? Perang adalah sesuatu untuk menghabisi lawan secepat mungkin. Sehingga manusia membutuhkan alat-alat yang efisien. kita bisa melihat persenjataan dirancang sepraktis mungkin untuk menghilangkan nyawa. Lalu siapakah yang mampu membeli dan memproduksi alat-alat perang? Tak lain tak bukan adalah orang-orang yang memiliki kapital. Maka sudah dapat dipastikan potensi yang besar menyulut perang berada ditangan kaum kapital.

Ketika kaum kapital memantik perang secara luas, mereka mungkin bisa menonton dari belakang sembari mengamankan harta bendanya dan menghitung untung ruginya. Mereka memiliki fasilitas lebih untuk menyelamatkan diri. Mereka tak perlu susah payah maju digaris depan untuk mengangkat senjata, cukup membayar orang sebagai tentara atau pemberontak. Mereka sangat minim bersentuhan langsung dengan realitas konflik. Bom-bom dijatuhkan, dan AK47 mulai ditembakkan. Berbagai teriakan terdengar. Suara siapakah yang menekik menangis?. Kaum-kaum yang hanya ingin kedamaian, yang tak tahu menahu, tetapi terseret wacana dominan kaum kapital. Mereka-mereka lah yang paling menderita yaitu kaum miskin. 

Si Miskin terombang-ambing di tengah samudra konflik. Mereka tidak menginginkan peperangan tetapi mereka telah ditakdirkan untuk kalah. Nyawa mereka seolah sudah digenggam malaikat pencabut nyawa. Harta benda, keluarga, senyumnya telah direnggut oleh perang. Ketika si kaya bersorak gembira merayakan perang, si Miskin hanya bisa menangisi sisa sisa peperangan, yaitu kehilangan. Mereka membenci secara dilematis, kebencian yang lahir dari sesuatu yang tidak diinginkan tetapi mereka menanggungnya. Mereka tak berdaya ketika senjata didistribusikan dan pasukan bersenjata dikerahkan. Obat penenang bagi mereka adalah keikhlasan. Sebab mereka sadar, tak mampu melawan kaum kapital.

 “Ketika si kaya menyulut perang si miskinlah yang mati” -Jean Paul Sartre-


*Muhammad Rokib, Pengurus UKM KPN IAIN Kudus 2021.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer